mau BISNIS online gratis

Sunday, July 10, 2011

Doa Yang Terkabul


By: M. Agus Syafii

Setiap manusia selalu saja datang cobaan dalam kehidupan, tujuan Allah memberikan cobaan sebenarnya agar kita lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ada seorang bapak yang selama hidupnya jauh dari Allah. Sampai ada satu peristiwa yang begitu mengejutkan sehingga menyadarkan dirinya betapa Maha Besarnya Allah telah menegur dirinya. Anaknya yang pertama, teramat dicintainya sakit. Tiba-tiba perutnya mengembung. Anaknya menangis terus menerus. Tanpa berpikir panjang dirinya segera membawa anaknya ke rumah sakit. Sebagai seorang ayah tak kuasa dirinya menahan air mata. Dokter sempat mengatakan kesempatan hidup anaknya tidak lama lagi. Tim dokter sudah dipersiapkan untuk operasi anaknya.

'Siapa yang mengatur hidup mati kita? apakah dokter itu yang mengatur?' begitu tanyanya. Sampai kemudian beliau teringat untuk bershodaqoh di Rumah Amalia. Berdoa memohon kepada Allah agar diberikan kesembuhan untuk putra tercintanya. Keesokan harinya operasi itu dilaksanakan. lampu operasi sudah menyala. Sementara seorang anak kecil tergeletak tak berdaya. Sang ayah nampak sangat gelisah. Hilir mudik didepan kamar operasi. Perkataan istrinya sudah tidak digubrisnya lagi. Sang ayah tak henti-hentinya berdoa. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari kamar operasi muncul didepan pintu sambil tersenyum. 'Bapak, berdasarkan hasil pemeriksaan saya, putra bapak tidak perlu dioperasi,' Beliau tertegun takjub. Desah nafasnya terasa ringan. Air matanya bercucuran. 'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, atas semua karuniaMu,' ucapnya penuh syukur.

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila tertimpa musibah mengucapkan, 'Kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya (QS 2:155-156). Read More..

Sunday, June 26, 2011

Pesawat Tanpa Sayap Terbang Secepat Jet


Firma asal Austria, Austrian Innovative Aeronautical Technology atau IAT21 menunjukkan pesawat inovasi terbaru buatannya dalam ajang Paris Air Show.

Pesawat yang dinamai D-Dalus itu menarik karena didesain tak memiliki sayap dan rotor, tetapi diklaim mampu terbang secepat jet dan tak banyak menimbulkan suara bising.

Mesin D-Dalus menggunakan 4 turbin yang berputar berlawanan untuk propulsi, masing-masing mencapai 2.200 rpm. Tiap turbin memiliki sudut serangan yang berbeda yang menurut desainernya memungkinkan pendorong utama ditembakkan ke berbagai arah. Ini memungkinkan pesawat diluncurkan secara vertikal, melayang, serta berotasi ke segala arah, bahkan ke atas.

Dalam laman situsnya, IAT21 mengungkapkan bahwa pesawat ini memiliki sekian teknologi baru yang telah dipatenkan. Beberapa di antaranya adalah bola bebas gesekan pada G force dan sistem yang menjaga propulsi sehingga berada pada kondisi equilibrium sehingga memungkinkan untuk memulihkan stabilitas secara cepat saat terbang.

Sejauh ini, D-Dalus masih berupa prototipe. Prototipe yang dikembangkan selama 3 tahun itu memiliki turbin sepanjang 1,5 meter dan bisa mengangkut muatan seberat 70 kilogram. D-Dalus telah menjalani tes awal dengan menggunakan mesin 120 bhp KTM dan uji terbang, tetapi hanya di laboratorium dekat Salzburg.

D-Dalus sebenarnya didesain untuk mendukung aktivitas pencarian dan penyelamatan, pemantauan bencana, dan pengintaian. Meski demikian, ada kemungkinkan untuk mengembangkannya menjadi pesawat pengangkut penumpang.

Saat ini, IAT21 tengah bekerja sama dengan Cranfiled University, Inggris, untuk mengembangkan pesawat dengan motor lebih kuat, lambung lebih besar, sistem kontrol yang lebih baik, serta mengupayakan sertifikat terbang.
Read More..

Thursday, June 16, 2011

Baasyir Divonis 15 Tahun Penjara

Baasyir Divonis 15 Tahun Penjara
Majelis hakim menjatuhkan vonis kepada Abu Bakar Baasyir dengan hukuman 15 tahun penjara. Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu terbukti melakukan tindak pidana terorisme.
"Menyatakan terdakwa Abu Bakar Ba'asyir terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana terorisme," kata Ketua Majelis Hakim, Herri Swantoro saat membacakan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (16/6/2011).


Hakim tidak sependapat dengan jaksa penuntut yang menginginkan Ba'asyir diganjar hukuman seumur hidup. Majelis hakim yang terdiri Herri Swantoro, Aksir, Sudarwin, Ari Juwantoro dan Aminul Umam menilai perbuatan Baasyir tidak mendukung program pemerintah memberantas teroris dan karena Ba'asyir pernah dihukum maka dianggap majelis sebagai hal yang memberatkan. Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa berperilaku sopan selama persidangan dan telah berusia lanjut.
Menurut majelis hakim, Ba'asyir terbukti dalam dakwaan subsider pasal 14 Junto pasal 7 uu 15 tahun 2003 tindak pidana terorisme. Ba'asyir terbukti merencanakan atau menggerakkan orang lain memberikan dananya untuk kegiatan militer di Aceh. Dana yang terbukti dihimpun Ba’asyir sejumlah Rp 350 juta, dengan rincian Rp 150 juta didapat dari Haryadi Usman, dan Rp 200 juta dari Syarif Usman, serta sebuah handycam dari Abdullah Al Katiri. Uang itu diduga digunakan untuk pelatihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar
Hakim anggota Sudarwin mengatakan video latihan militer di Aceh sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban dan menyakinkan Hariadi serta Syarif bahwa dananya digunakan untuk berjihad. "Pengadaan video itu dapat dipakai untuk menyusun fakta," tukas Sudarwin.

http://id.berita.yahoo.com/baasyir-divonis-15-tahun-penjara-071029796.html
Read More..

Puisi-puisi Nona Alisha Husna

SEUSAI HUJAN

: Kepada T. Andrian Indra M

Kau bisa menyentuhnya sejenak Pada samar-samar terik senja Bulir-bulir hujan menggelinding di kaca jendela Meluruhkan debu-debu, sisa badai sebelumnya

Dari timur, ia datang Menyuguhkan sebongkah kelam abadi Kemana harus memalingkan muka Agar terenyah dari rasa pahit paling pahit

Demi Tuhan, rasa ini lebih kekal dari yang terkira Dan demi Tuhan, sakit ini lebih abadi pula dari yang terbayangkan Dan jasad ini telah membatu bertahun-tahun lamanya

Banda Aceh, 16.06.2011

ODE LELAKI HUJAN I

Ah, aroma lembab hari ini, serupa aroma engkau yang datang di musim semi Nmun tubuhmu adalah musim hujan yang enggan mongering Engkaulah tanah basah, tempat kembang-bunga bermekaran

Kau musim hujan Ketika jasadku menjadi tandus Mengingatmu, mengingat sepanjang jejak tanah yang pernah kau aku tapaki dulu Seketika menyejuk

Banda Aceh, 16.06.2011

ODE LELAKI HUJAN II

Bagimu, hujan adalah hujaman harapan Kau pernah berharap, bahkan yakin bahwa rindumu tak akan sekelabu cuaca Entah bagaimana dengan rindu yang ada pada lainnya Tengadahkan wajahmu, rasakan haru biru, sejuk kelu, deru bisu, dan rintihan air itu

Bagiku, hujan adalah bait nafas yang menyesakkan Bait rindu yang tak berujung pangkal Bait denyut hidup yang seakan berhenti tiba-tiba

: Entah mengapa, habis mendung turunlah hujan

Banda Aceh, 16.06.2011

DIAM I

Masih saja, kita terpenjara dalam suasana yang diam Atau memenjarakan kata-kata dalam bungkam yang entah sampai kapan Jika engkau masih saja memandangi sendok yang bernari dalam cangkirmu, aku hampir saja menjadi gelap segelap pantulan diriku dalam cangkir kopiku sendiri Engkau dan aku, sama-sama sedang meneriakkan batin dalam diam, bukan? Dan entah berapa rasa yang telah bunuh diri dalam cuaca yang gamang

Banda Aceh, 11.06.2011

DIAM II

Cangkir-cangkir putih telah usai memancarkan kedamaiannya dalam diam Untuk mendamaikan betapa kita telah sekarat menuju ajal : sebuah kesunyian Meski kopi ini menjadi legam, berubah pahit Biarkan pahit itu menjadi rekan bagi kesepian yang amat hangat telah memeluk Tapi jangan sampai berubah asin, sebab hujan ikut campur pula melemaskan ketegangan ini

Banda Aceh, 13.06.2011

DIAM III

Bertemu lagi dengan sore tanpamu Di ambang jendela, kupu-kupu terdiam menjadi bangkai seusai meratapi cangkir yang telah kosong Berjelaga seperti kemelut setelah amarah-caci maki mulai beterbangan mencari udara segar

Sendiri mendiami sunyi, meremas-remas sepi dan terbunuh hujan kemarin Karena seharusnya.. Kita sedang mengaduk-aduk kopi panas, yang diseduh dari hangatnya riuh tawa Sambil memunggungi timur, menghitung mundur, saat-saat senja melumer Tapi kenyataannya, aroma yang timbul dari cangkir kering ini hanyalah aroma kesepian bersama pertanyaan-pertanyaan yang mestinya tak perlu dipertanyakan

Banda Aceh, 16.06.2011

DIAM IV

Seraya aku menghitung jumlah sepi yang diam dalam waktu telah lewat dan akan mampir, aku memandang lelaki di sudut ruang, seperti mengenyahkan kesepiannya juga. Mungkin. Lalu kupikir, mengapa kita tidak berbagi meja saja. Menggenggam cangkir yang damai dan berbagi kesepian. Mungkin bangkai kupu-kupu di ambang jendela itu bisa hidup kembali

Banda Aceh, 16.06.2011

Nona Alisha Husna. Perempuan kelahiran Banda Aceh, 7 Desember 1988 ini memulai hobi menulis sejak duduk di bangku TK. Saat ini menjadi jurnalis di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) salah satu Universitas di Banda Aceh. Bisa ditemui di: nona.alisha@gmail.com.


http://oase.kompas.com/read/2011/06/17/03205664/Puisi-puisi.Nona.Alisha.Husna
Read More..

pay to click